JENIS OBAT BATUK

JENIS OBAT BATUK

JENIS OBAT BATUK
JENIS OBAT BATUK

Penanganan batuk harus disesuaikan dengan penyebabnya. “Apakah karena alergi, infeksi virus, atau kelainan fisiologis lain,” kata Muljono. Untuk pertolongan pertama, pemberian obat bebas boleh-boleh saja. “Tapi sekali anak sudah batuk berdahak, sebaiknya segera bawa ke dokter untuk membedakan, apakah hanya flu biasa atau ada faktor alergi.”
Beberapa zat yang biasanya terdapat dalam obat batuk di antaranya adalah antitusif untuk menekan batuk dan dekongestan (melegakan jalan napas), pengencer lendir, atau kombinasi. Dekongestan umumnya membantu melebarkan saluran napas atas dengan jalan mengurangi oedema (pembengkakan saluran napas di hidung).
Salah satu jenis obat batuk yang sejak dulu populer adalah obat batuk hitam (OBH). “Untuk batuk ringan, OBH atau obat batuk putih generik bisa digunakan.” Sementara beberapa obat batuk yang dijual bebas sebetulnya tidak begitu dianjurkan untuk anak-anak, khususnya obat-obat batuk yang sudah ditambah dengan berbagai inovasi.
Pemakaian obat batuk yang mengandung pengencer lendir sebaiknya juga harus hati-hati, khususnya untuk anak kecil yang otot-otot pernapasannya masih lemah. “Pemakaian yang terlalu lama sebetulnya tidak baik, karena lendir yang mengencer malah akan memenuhi saluran napas, sehingga anak mengalami sesak napas. Jika tidak diimbangi tindakan fisioterapi, seperti menepuk-nepuk punggung, maka pemakaian obat batuk yang mengandung pengencer lendir pada bayi atau anak malah bisa sangat berbahaya.”Yang harus diwaspadai, lanjut Muljono, “Ada obat batuk yang mengandung zat-zat yang bisa memengaruhi kerja otak dan meredam susunan saraf pusat, misalnya kodein. Obat-obatan ini biasanya jenis yang mengandung narkotika, jadi sebaiknya tidak dipilih. Untuk penderita asma, pemakaian obat-obat ini memang akan menghilangkan batuk, tapi saluran napas yang justru akan tersumbat oleh sekresi,” kata Muljono.

HINDARI BENDA KECIL
Waspada jika Anda memiliki putra/putri yang masih kecil. Anak usia 1-2 tahun harus dihindarkan dari kemasukan benda asing di saluran napas atas (hidung). “Anak-anak kecil sering memasukkan benda-benda kecil, misalnya misalnya tisu, mainan dari plastik, kacang, atau baterai kancing ke dalam hidung mereka. Karena basah oleh ingus, biji atau benda yang dimasukkan ke lubang hidung tadi akan membesar, sehingga tidak bisa keluar. Akibatnya, terjadi infeksi,” kat Muljono.

Infeksi ini akan membuat anak mimisan dan mengeluarkan nanah yang berbau. Ini biasanya akan membuat anak batuk terus-terusan. Terkadang, anak yang masih kecil tidak bisa mengatakan apa yang ia rasakan, tahu-tahu sudah berdarah. “Oleh karena itu, orang tua sebaiknya tidak sembarangan maneruh atau membuang benda-benda kecil.”

BACA LABEL OBAT
a.. Pada keadaan darurat, misalnya tengah malam, anak batuk, cara-cara tradisional bisa dilakukan. Misalnya, mengolesi dada dengan minyak telon, minyak kayu putih, atau bawang. “Cara ini bisa membantu, tapi harus hati-hati karena ada efek sampingnya, misalnya iritasi kulit. Cara yang lebih baik adalah dengan menggunakan uap panas yang diberi Vicks, yang mempunyai efek melegakan napas,” kata Muljono.
b.. Sebelum membeli obat batuk di toko obat atau apotek, pilih obat yang sesuai dengan batuk yang dialami anak. “Sebutkan keluhan sesuai usia. Sebetulnya, asal kita membaca dengan teliti petunjuk pada label obat, umumnya aman-aman saja, kok.” Yang juga diperhitungkan adalah mana yang lebih diutamakan, batuknya atau mengencerkan lendirnya. “Kadang, batuk tidak boleh ditekan karena justru sangat berguna. Kalau batuk ditekan dan anak tidak batuk, bisa-bisa anak malah sesak karena lendir.”
c.. Lebih baik ke apotek, karena di apotek ada apoteker yang lebih tahu tentang obat ketimbang tukang obat.
d.. Jika anak tak juga sembuh selewat seminggu, sebaiknya segera pergi ke dokter untuk dicari penyebab batuk.
e.. Jangan terlalu percaya atau fanatik terhadap satu jenis obat batuk saja. “Asal anak batuk, lalu diberi obat tersebut. Bisa jadi, suatu ketika obat itu tak lagi manjur, karena mungkin jenis batuk anak kali ini berbeda. Jangan juga “meneruskan” tradisi memberikan obat tertentu kepada anak berikutnya. “Setiap anak, kan, mempunyai sifat tersendiri,” kata Muljono. (Nova)

Sumber : https://articles.abilogic.com/424466/understanding-cbc-according-experts.html