KALIAN ORANG AMERIKA BEKERJA TERLALU KERAS

KALIAN ORANG AMERIKA BEKERJA TERLALU KERAS

KALIAN ORANG AMERIKA BEKERJA TERLALU KERAS
KALIAN ORANG AMERIKA BEKERJA TERLALU KERAS

Andreas Drauschke dan Angie Clark bekerja dengan pekerjaan yang sebanding untuk gaji yang sebanding pula di  department store di Berlin dan pinggiran kota Washington D.C. Namun disana tidak ada perbandingan ketika menjelang waktu mereka istirahat.

Pekerjaan Mr. Drauschke membutuhkan 37 jam seminggu dengan 6 minggu cuti pertahun. Tokonya tutup di akhir pekan pada jam 2 Sabtu siang dan tetap buka satu malam tiap minggu –pelayanan baru di Jerman yang dibenci Tuan Drauschke. “Saya tidak mengerti mengapa orang berbelanja di malam hari di Amerika,” kata pria 29 tahun itu, yang mengawasi divisi otomotif, sepeda motor, dan sepedadi Karstadt, rangkaiandepartment store terbesar di Jerman.” Secara logika berbicara, mengapa seseorang perlu membeli sepeda pada jam 8.30 malam?”

Nyonya Clark bekerja setidaknya 44 jam seminggu, termasuk shift malam dan sering kali Sabtu dan minggu. Beliau sering membawa pulang pekerjaannya ke rumah bersamanya, menghabiskan hari liburnya memandu kompetisi, dan tidak pernah mengambil lebih dari satu minggu cuti bersamaan. “Jika saya mengambil lagi, saya merasa saya kehilangan kendali,” kata senior manajer perdagangan di J.C. Penney di Springfield, Virginia.

Nyonya Clark yang berusia 50 tahun lahir di Jerman namun merasa seperti alien ketika beliau mengunjungi tanah kelahirannya tersebut. “Jerman mendahulukan waktu luang dan kerja kemudian,” katanya. “Di Amerika itu adalah sebaiknya.”

Sementara orang-orang Ameria sering kagum dengan perindustrian Jerman, sebuah perbandingan ledakan beban kerja sebenarnya seperti stereotip nasional. Dalam manufaktur, contohnya, rata-rata mingguan di Amerika Serikat 37,7 jam dan meningkat; di Jerman hanya 30 jam dan menurun secara tetap selama beberapa dekade terakhir. Semua pekerja Jerman dijamin oleh hukum minimal 5 minggu libur tahunan.

Satu hari yang dihabiskan di departement store Jerman dan Amerika juga menunjukkan jurang lebar pada etika kerja kedua negara, setidaknya diukur dengan sikap selama waktu kerja. Orang Jerman dengan tegas menolak gangguan apapun di jam santai mereka, sementara banyak pekerja J.C. Penney mengerjakan pekerjaan kedua dan terbebani 60 jam kerja seminggu.

Namun jam yang lama dan tidak biasa sesuai dengan harganya. Staf yang absen di toko Jerman dapat diabaikan; di J.C. Penney hal itu 40 persen pertahun. Jerman melayani pegawai magang  2 hingga 3 tahun dan tahu mereka berharap masuk. Pekerja di J.C. Penney menerima pelatihan 2 hingga 3 hari. Dan ini merupakan kebutuhan ekonomi,  lebih dari pengabdian apapun demi bekerja untuk kepentingannya sendiri, yang muncul untuk memotivasi kebanyakan tenaga kerja Amerika.

“Mulanya itu adalah kebutuhan dan kemudian menjadi ketamakan,” kata Sylvia Johnson, yang menjual penuh waktu di J.C. Penney dan bekerja 15 hingga 20 jam lainnya seminggu melakukan entry data di komputer perusahaan. Kedua pekerjaan itu membantunya memasukkan satu anaknya ke sekolah kedokteran dan yang lainnya ke universitas. Sekarang Nyonya Johnson, 51, mengatakan beliau tidak perlu bekerja terlalu keras –namun masih melakukannya.

“Suami saya dan saya memiliki rumah yang nyaman dan tiga mobil,” kata beliau. “Tapi saya pikir anda akan selalu merasa seperti menginginkan sesuatu yang lebih sebagai penghargaan untuk semua kerja keras yang telah anda lakukan.”

Tuan Drauschke, pengawas Jerman, memiliki pandangan yang berbeda: kerja keras ketika anda dalam pekerjaan dan keluar secepat yang anda bisa. Tukang kebun yang bersemangat dengan seorang istri dan anak yang mash kecil, dia datang 20 menit lebih awal daripada staf yang lainnya tapi sebaliknya dia tidak memiliki ketertarikan dalam bekerja selain 37 jam mandat kontraknya, bahkan jika itu berarti uang lebih. “Waktu luang tidak bisa diganti,” katanya.

Hasrat untuk menjaga waktu kerja tetap pendek adalah sebuah obsesi di Jerman –dan misi konstan dari persatuan kekuasaannnya. Ketika Jerman mengenalkan belanja Kamis malam pada 1989, pekerja retail melakukan pemogokan. Dan Tuan Drauschke menyadari bahwa sulit bagi staf untuk melakukan 2 jam ekstra pada Kamis malam, meskipun shift malam dihargai dengan satu jam lebih sedikit dari pekerjaan seluruhnya. “Istri saya menentang dengan kedatangan saya yang pulang larut malam,” satu pekerja mengatakan padanya ketika ditanya apakah dia akan bekerja hingga jam 8.30 malam pada Kamis selanjutnya.

Tuan Draschke, seperti orang Jerman lainnya, juga menyadari kebiasaan orang Amerika yang mengambil pekerjaan sampingan yang tidak bisa dipahami. “Saya sudah pulang jam 7. Kapan saya harus bekerja?” dia bertanya. Ketika berlibur, itu ilegal –ya, ilegal- bagi orang Jerman untuk bekerja dengan pekerjaan lain selama liburan, waktu yang “jelas untuk memulihkan diri,” jelas Tuan Draschke. Dia menambahkan, “Jika kita memiliki kondisi seperti Amerika, anda akan berpikir keras jika anda ingin meneruskan pekerjaan ini.”

Di J.C. Penney, hari kerja dari manajer perdagangan Nyonya Clark dimulai jam 8 pagi ketika dia menaiki layanan lift ke ruangannya yang tanpa jendela di kantornya. Meskipun toko belum buka hingga jam 10 pagi, dia merasa dia membutuhkan waktu ekstra untuk memeriksa pajangan lantai dan jadwal. Kebanyakan staf penjualan datang sekitar jam 9 pagi untuk menata daftar dan stok ulang rak –sebuah kontras tajam dengan Karstadt, dimana staf penjualan datang tepat sebelum toko buka.

Sumber : http://e-journal.unipma.ac.id/index.php/JPAUD/comment/view/516/1602/66105