Lapsus: Sekolah Bagus Tanpa Kesiapan Anak, Tak Ada Artinya

Lapsus: Sekolah Bagus Tanpa Kesiapan Anak, Tak Ada Artinya

Lapsus Sekolah Bagus Tanpa Kesiapan Anak, Tak Ada Artinya
Lapsus Sekolah Bagus Tanpa Kesiapan Anak, Tak Ada Artinya

Tak sedikit orang tua yang menggunakan pertimbangan biaya, jarak, dan kualitas

dalam menentukan sekolah anak. Memang tidak salah, tapi pertimbangan itu saja tak cukup.
Menurut Anita Lie, ahli kurikulum dan praktisi pendidikan, dari Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UWKMS), ada hal-hal penting yang perlu disiapkan orang tua sebelum mulai menyekolahkan anak-anak mereka.
”Anak yang sudah bisa bersosialisasi, bisa berbagi, yang sudah bisa meminjamkan mainan atau bukunya untuk teman lain, umumnya sudah siap bersekolah,” kata Anita, beberapa waktu lalu.

Sebelum bersekolah, anak juga harus bisa mengungkapkan ekspresi verbal seperti

mengucap maaf, meminta tolong, menyampaikan terima kasih, atau menyampaikan maksud seperti ‘boleh saya pinjam?’.
”Termasuk mengajarkan anak tentang ekspresi pertahanan diri menghadapi teman yang suka memukul atau bertindak semena-mena. Sebelum mulai sekolah anak perlu diajarkan tindakan melindungi diri tapi tidak membalas kekerasan dengan kekerasan,” ujarnya.

Kemampuan semacam ini dinilai Anita lebih penting dari sekadar calistung yang pasti

bisa dikuasai anak dalam waktu beberapa bulan saja.
Anak-anak yang belum bisa mengatasi separation anxiety atau terlalu cemas berpisah dengan orang tua, umumnya belum sepenuhnya siap bersekolah.
Melihat kondisi anak yang seperti ini, anak bisa pelan-pelan dilatih dengan beberapa strategi. Misalnya menggunakan permainan ‘Cilukba’. Kata Anita, Cilukba itu permainan sederhana tapi memberi refleksi yang bagus untuk anak. Anak akan mengerti kalau saat seseorang tidak tampak di hadapannya bukan berarti mereka hilang. Mereka hanya berada di tempat berbeda dan akan bertemu lagi.
Selain itu, Prof Anita menyarakan agar anak-anak tidak perlu dibohongi ketika orang tua akan pergi meninggalkan mereka di sekolah. Justru latih anak mengenal time frame berdasarkan aktivitas mereka. ”Anak usia prasekolah belum bisa membaca jam. Jadi gunakan time frame seperti ‘nanti ketemu mama lagi waktu kamu makan siang ya’. Dengan begitu anak tahu dia tidak sedang ditinggal begitu saja,” saran Anita.

 

Baca Juga :