Manfaat Yang Diharapkan

 Manfaat Yang Diharapkan

Sebagai salah satu pembelajaran bagi mahasiswa dalam pengaplikasian herbisida dengan dosis yang tepat pada komoditi perkebunan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Tahapan prosedur pengelolaan gulma di perkebunan dimulai dengan identifikasi masalah, pemilihan cara pengendalian dan implementasinya. Jika terjadi kesalahan dalam pemilihan ncara atau implementasi pengendalian, maka diperlukan umpan balik Masalah gulma di perkebunan timbul sejak land clearing sampai dengan tanaman menghasilkan Untuk itu perlu pengelolaan secara efisien dan bijaksana. Dampak negatif yang ditimbulkan gulma antara lain persaingan sarana tumbuh, mengganggu operasional di lapangan, sumber hama dan penyakit tumbuhan, sekresi zat-zat alelopati, serta penurunan nilai estetika. Semua kerugian tersebut dapat menurunkan produksi pertanian(Sembodo, D. R. J. 2010)

Cara dan frekuensi pengendalian gulma tergantung pada jenis gulma dan umur tanaman serta ada tidaknya tanaman penutup tanah. Secara umum, pengendalian gulma dapat dilakukan secara mekanis, kimiawi dan bilologis. Pengendalian secara manual bisa menggunakan peralatan mesin seperti sleser dan secara konvensional menggunakan alat mekanis tradisional seperti parang, belebas, cangkul, dan garpu. Pengendalian gulma secara kimia, yaitu pengendalian gulma dengan menggunakan herbisida, baik yang bersifat kontak maupun sistemik (Kementan,2011).

Herbisida diaplikasikan sebagai herbisida pra tanam. Pada tanah mineral digunakan herbisida yang selektif dan sistemik. Sedangkan pada tanah gambut dan pasang surut digunakan herbisida kontak dan non selektif. Di tanah mineral, teknik ini sering dipakai pada lahan yang didominasi alang-alang. Penyemprotan pertama adalah Blanket Spraying yang kemudian diikuti oleh semprotan koreksi dua minggu setelah penyemprotan pertama(Djojosumarto,p, 2000)

Efektifitas pemberian herbisida antara lain ditentukan oleh dosis dan waktu pemberiannya. Dosis herbisida yang tepat akan dapat mematikan gulma sasaran, tetapi jika dosis herbisida terlalu tinggi maka dapat merusak bahkan mematikan tanaman yang dibudidayakan. Pemakaian herbisida sistemik seperti glifosat memerlukan waktu untuk translokasi ke seluruh bagian gulma sehingga terjadi keracunan (Purba, E, 2002).

Kerugian yang ditimbulkan akibat gulma di perkebunan tanaman industri, antara lain (1) pertumbuhan tanaman industri muda terhambat sehingga biaya pemeliharaan TBM meningkat, (2) produksi TBS menurun karana kompetisi tanaman dengan gulma sehingga menyulitkan kegiatan operasional kebun seperti pemupukan, dan panen, (3) ancaman bahaya kebakaran, serta (4) keberadaan gulma di piringan atau yang menempel akan menyulitkan pengamatan sehingga terlambat panen (Moenandir, J. 2010)