Model Tektonik Lempeng

Model Tektonik Lempeng

Model Tektonik Lempeng

Model Tektonik Lempeng

Dalam menjelaskan segala sesuatu yang berkaitan dengan bumi

dari inti hingga permukaan dan segala macam proses yang terjadi di dalamnya, para ahli ilmu kebumian mengacu pada model tektonik lempeng. Model yang mulai dikembangkan pada abad ke-19 ini mempunyai cakupan yang luas. Di dalamnya sangat banyak teori yang berdiri sendiri-sendiri secara parsial, yang apabila disatukan akan membentuk model tektonik lempeng. Sebenarnya, model ini masih belum sempurna betul karena masih ada beberapa proses-proses kebumian yang belum dapat dijelaskan dengan baik, terutama yang berkaitan dengan asal mula medan magnet bumi. Tetapi untuk menjelaskan fenomena gempabumi tektonik, model ini sangat sesuai. Mungkin karena masih belum sempurna, sehingga para ahli kebumian belum seluruhnya sepakat untuk menyatakan model tektonik lempeng sebagai teori tektonik lempeng.

Beberpa point penting dari model ini:

  1. Permukaan bumi dilapisi oleh sejumlah kecil massa batuan yang relatif kaku (rigid), yang disebut lempeng litosfer. Setiap lempeng ini mempunyai ketebalan yang bervariasi, dari 6 sampai 150 km. Lempeng-lempeng ini tersusun oleh material kerak bumi dan mantel-atas. Batas-batas antar lempeng merupakan zone aktivitas tektonik yang kuat, dan merupakan tempat-tempat terkonsentrasinya gempa tektonik. Bagian tengah lempeng relatif diam secara tektonik, kecuali lempeng di mana Kepulauan Hawaii berada.
  2. Jenis kerak pada bagian atas setiap lempeng menentukan apakah lempeng tersebut adalah lempeng benua, lempeng samudra, atau lempeng kombinasi dari keduanya. Bila keraknya hanya satu lapis (simatic), seperti lempeng Nazca dan Pasifik, maka ia adalah lempeng samudra; bila keraknya dua lapis (sialic + simatic), seperti lempeng Arab dan Iran, maka ia adalah lempeng benua (daratan). Beberapa lempeng lainnya, seperti lempeng Amerika Utara, merupakan lempeng kombinasi, karena keraknya terdiri atas benua dan samudra.
  3. Lapisan dengan material batuannya bersifat ductile disebut astenosfer, dan merupakan pemisah antara litosfer dengan mantel-bawah. Batuan astenosfer sangat rendah rigiditasnya sehingga memungkinkan lempeng-lempeng litosfer yang terletak di atasnya bersifat dinamis.
  4. Benua dan samudra seakan-akan sebagai penumpang di atas lempeng-lempeng litosfer yang bergerak. Bila lempeng-lempeng tersebut berubah posisi relatif terhadap yang lainnya, maka distribusi benua dan samudra juga mengalami perubahan, yang berarti bentuk muka bumi berubah pula.
  5. Ada 3 jenis batas lempeng, yang semuanya merupakan tempat-tempat aktivitas tektonik, yaitu: 1) Batas divergen, batas di mana lempeng-lempeng bergerak saling menjauhi. Batas ini tiada lain adalah punggung tengah-samudra (mid-ocean ridge). 2) Batas konvergen, batas di mana lempeng-lempeng saling bertemu. Batas ini bisa berupa zone subduksi, juga bisa berupa zone obduksi. Zone subduksi tidak lain adalah palung laut (trench). Contohnya adalah palung laut Sulawesi. Pada kasus ini, lempeng Laut Sulawesi menunjam ke bawah lempeng Pulau Sulawesi. Pusat gempa pada zone subduksi terletak pada lempeng yang melengkung ke arah mantel, yang disebut zone Benioff.  Peristiwa obduksi adalah kebalikan dari peristiwa subduksi. Wilayah Kalimantan Utara terbentuk melalui proses obduksi. 3) Batas netral, merupakan sesar transform (transform faults), yakni batas di mana 2 lempeng saling berpapasan. Contohnya adalah sesar Palu-Koro. Mungkin, sesar ini merupakan batas antara mendala timur dan mendala barat Pulau Sulawesi. Kedua mendala ini tidak bertemu, tetapi berpapasan, di mana mendala timur bergerak relatif ke arah utara.

Pada batas konvergen dan batas netral terjadi pergeseran antara 2 lempeng, sedang pada batas divergen terjadi pergeseran antara lempeng dengan material kerak bumi yang ada di atasnya. Kaitan antara pergeseran lempeng-lempeng ini dengan kejadian gempa tektonik dijelaskan dalam teori elastic rebound. Menurut H. F. Reid (1906), penggagas teori ini, bahwa “Penyebab gempa tektonik adalah adanya pelepasan energi elastik strain yang tiba-tiba. Energi ini sebelumnya terakumulasi pada bidang lempeng selama proses pergeseran terjadi. Bila pada suatu tempat tertentu, pada lempeng tersebut, fracture strength-nya terlampaui, maka dari tempat tersebut akan lepas seluruh energi yang telah terakumulasi”.

Energi yang dilepaskan ini sebagian berubah menjadi energi panas dan sebagian lagi menjadi energi yang berbentuk gelombang elastik atau gelombang seismik. Energi gelombang ini akan menjalar ke segala arah, di dalam bumi dan di permukaan bumi, menggetarkan tanah atau batuan. Getaran inilah yang disebut gempabumi. Gempa ini disebut gempa tektonik, karena proses kejadiannya didahului dengan pergeseran lempeng-lempeng litosfer, sebagaimana yang disebutkan dalam model tektonik lempeng.

Dengan memperhatikan distribusi episenter, yang merupakan batas-batas lempeng litosfer sebagaimana disebutkan di atas, sekarang ini sudah dapat diidentifikasi lempeng-lempeng yang ada, baik yang berukuran raksasa, berukuran sedang, maupun yang berukuran mikro. Ada 8 lempeng raksasa, 3 di antaranya adalah lempeng Pasifik, Eurasia dan India-Australia. Lempeng sedang adalah lempeng Filipina, Cocos, Turki, dan lain-lain. Sedangkan lempeng mikro, yang ada di sekitar Pulau Sulawesi, adalah lempeng Banggai-Sula dan lempeng Tukang Besi.

 

Dari uraian di atas, berdasarkan model tektonik lempeng

dapatlah diketahui bahwa isi bumi tidaklah statis atau diam, melainkan dinamis! Salah satu bukti nyata tentang kedinamisan ini adalah proses terjadinya gempa tektonik. Lempeng-lempeng yang ada saling bergerak antara yang satu dengan yang lain. Batas-batas lempeng ini merupakan tempat terkonsentrasinya pusat gempa. Khusus pada batas konvergen (zone subduksi), di samping sebagai konsentrasi pusat gempa, juga merupakan konsentrasi gunungapi. Jajaran gunungapi yang ada di Pulau Sumatra dan Pulau Jawa adalah akibat dari subduksi lempeng India-Australia ke bawah lempeng Eurasia. Pada zone Inilah gempa Aceh berpusat. Adapun jajaran gunungapi yang ada di Sulawesi Utara adalah akibat subduksi lempeng Laut Sulawesi ke bawah lempeng Pulau Sulawesi.

 

Tingkat kerusakan yang dapat ditimbulkan oleh gempa-gempa

yang berpusat pada ketiga jenis batas lempeng tersebut berbeda-beda. Gempa yang berpusat pada batas netral umumnya mempunyai daya rusak yang kuat, karena pusat gempanya dangkal (0 – 70 km). Gempa yang berpusat pada batas konvergen mempunyai kedalaman menengah (70 – 300 km) sampai dalam ( > 300 km). Daya rusaknya lemah, karena getaran gempa sudah banyak teredam sebelum sampai ke permukaan bumi. Tetapi pada beberapa kasus, pusat gempanya dangkal, sehingga daya rusaknya kuat, misalnya gempa Aceh, yang juga disusul tsunami. Dan, gempa-gempa yang berpusat pada batas divergen, meskipun pusat gempanya dangkal tetapi daya rusaknya hampir tidak ada. Hal ini disebabkan karena umumnya jarak antara daratan dengan punggung tengah-samudra sangat jauh, maka getaran yang tiba di daratan sudah melemah, bahkan sudah tidak ada.

Hingga saat ini, belum ada ilmu dan teknologi jenis apapun, atau peralatan secanggih apapun, yang dapat memprediksi secara rinci dan akurat: kapan dan di mana lagi akan terjadi gempabumi tektonik, Karena itu, sangatlah diperlukan pemahaman yang baik tentang fenomena ini, sebagai modal awal dalam mencari upaya-upaya preventif dalam menghadapi ancaman gempa tektonik, yang kehadirannya selalu tiba-tiba …… dan …… seringkali menghancurkan ……! Waspadalah …!

Baca Juga :