SD Maluku Surati Orangtua: “Ujian Takkan Mencabut Bakat Mereka”

SD Maluku Surati Orangtua: “Ujian Takkan Mencabut Bakat Mereka”

SD Maluku Surati Orangtua Ujian Takkan Mencabut Bakat Mereka

SD Maluku Surati Orangtua Ujian Takkan Mencabut Bakat Mereka

Sebuah sekolah dasar di Maluku mengedarkan surat, menyerukan kepada orangtua siswa untuk menghargai beragam bakat dan kecerdasan anak mereka menjelang pengumuman kelulusan sekolah. Inisiatif sekolah ini dipuji luas banyak kalangan karena membawa cara pandang baru atas kemampuan siswa.
VOA —

SD Islam Al-Bina Masohi, Kabupaten Maluku Tengah, menyurati para orangtua di lingkungan sekolah itu hari Senin (10/6/2019), sehari menjelang pengumuman kelulusan. Surat itu intinya mengingatkan orangtua bahwa di antara anak-anak yang ujian ada calon seniman, pengusaha, musisi, dan lain-lain, yang bisa jadi kurang dalam mata pelajaran tertentu.

“Sekiranya anak bapak/ibu lulus menjadi yang terbaik, maka hebat lah dia. Tapi jika tidak, mohon jangan rampas rasa percaya diri dan harga diri mereka,” tulis surat tersebut.

Kepala Sekolah SD ini, Darno Yusuf Mulyono, mengatakan setiap siswa memang memiliki bakat dan potensi masing-masing.

“Anak-anak kita ini begitu lho kondisinya. Bukan hanya ada satu yang menonjol seragam,” ujarnya saat dihubungi VOA, seraya menambahkan, “Yang datang ke sekolah itu bukan semuanya sama. Jadi sudah harus disikapi masing-masing peserta didik itu dengan kondisinya masing-masing.”
Surat dari kepala sekolah SD Al Bina Masohi kepada orangtua siswa yang mengingatkan bahwa ujian takkan mencabut bakat para siswa. (Courtesy: Darno Yusuf Mulyono/SD Al Bina Masohi)
Surat dari kepala sekolah SD Al Bina Masohi kepada orangtua siswa yang mengingatkan bahwa ujian takkan mencabut bakat para siswa. (Courtesy: Darno Yusuf Mulyono/SD Al Bina Masohi)

Terinspirasi Kecerdasan Majemuk dan Kisah di Singapura

Darno mengatakan ia terinspirasi oleh teori kecerdasan majemuk (multiple intelligences). Teori ini dicetuskan pakar kognisi dan pendidikan Howard Gardner dari Universitas Harvard, AS. Teori yang dicetuskan pada 1983 itu mengatakan setiap orang memiliki 8 jenis kecerdasan: linguistik, matematik, interpersonal, intrapersonal, natural, musikal, visual/spasial, dan kinestetik/gerak. Setiap orang bisa menonjol dalam beberapa jenis kecerdasan yang berbeda-beda.

Dengan pemahaman itu, kata Darno, memaksa peserta didik mahir di semua mata

pelajaran akan membebani mereka.

“Guru matematika misalnya, ‘oh semua anak harus pintar matematika’. Nanti guru bahasa Indonesia ‘oh semua harus pintar bahasa Indonesia’. Itu yang dari saya pribadi, jangan kemudian kita itu membebani siswa seperti itu,” ungkapnya.
/**/ /**/ /**/ Pelajar di Yogyakarta bersepeda pulang sekolah. (foto: VOA/Nurhadi)
BACA JUGA:
Zonasi Sekolah, Angin Segar Bagi Difabel

Namun, dorongan terbesar Darno adalah kisah sebuah surat yang dia temukan di WhatsApp. Surat berbahasa Inggris pada 2017 itu disebarkan kepala sekolah di Singapura kepada para orangtua siswa. Surat itu pun dia jadikan inspirasi dan dimodifikasi di beberapa bagian.

“Jadi teringat surat itu. Akhirnya saya angkat lagi ke teman-teman (guru) di sekolah,

kemudian teman-teman juga setuju. Mereka sih awalnya berpikir mungkin dipublikasikan lewat medsos saja. Tapi saya bilang tidak, ini harus di print-out kemudian bagikan ke orangtua siswa,” tambahnya.

Darno berharap orangtua memiliki cara pandang yang sama tentang siswa. Sehingga siswa tidak merasa tegang menjelang ujian dan pengumuman kelulusan.

“Satu moto atau slogan di sekolah. Biasanya kalau yang lain ‘harap tenang ada ujian’ ya kita ganti ‘harap senang ada ujian’,” ujarnya sambil tertawa. “maksudnya biar kondisi psikis anak juga tidak terbebani.”

Surat SD Al-Bina Masohi Tuai Pujian

Dalam unggahan di laman Facebook SD Islam Al-Bina, surat ini sudah dibagikan 1.400 kali. Banyak warganet memuji surat yang mengapresiasi macam-macam potensi siswa ini.

Apresiasi juga disampaikan Yayasan Cahaya Guru (YGC), yang mengatakan surat tersebut sangat inspiratif.

“Waktu saya membaca itu, saya membayangkan betapa menyenangkannya kalau kepala sekolah itu bisa menjadi inspirasi untuk yang lain. Ini memperlihatkan pemahaman beliau dan keberpihakan beliau pada keunikan setiap anak,” ujar Ketua YGC Henny Supolo saat dihubungi terpisah.

Henny mengatakan, ada orangtua yang memberi beban tinggi kepada anak untuk mendapat nilai baik supaya masa depannya terjamin. Namun, karena ujian bukan satu-satunya penentu kelulusan, jangan sampai ia menjadi momok.

 

Sumber :

https://forums.adobe.com/people/danuaji88