Syarat-syarat mufasyir bi-ro`yi ( penafsir al-quran )

Syarat-syarat mufasyir bi-ro`yi ( penafsir al-quran )

Syarat-syarat mufasyir bi-ro`yi ( penafsir al-quran )

Yakni yang terkait dengan ilmu bahasa arab adalah nahwu, sharaf, isyriqaq lughah, balaqhah, qira’at, ushuludin, ushul fiqh, asbabun nuzul, nasikh, mansukh. Selain itu As-Suyuthi mengutip pendpat dari Az-Zarkasyi dalam Al-Burhan mengenai syarat-syarat pokok yang harus dimiliki oleh seseorang agar ia boleh menafsirkan Al-qur’an berdasarkan ra’yu (pendapat atau akal). Syarat-syarat pokok itu berkisar di sekitar empat pokok, yaitu :

  1. Bepegang pada hadits-hadits berasal dari Rasulullah SAW. Dengan ketentua ia harus waspada terhadap riwayat yang dhoif (lemah) mandhu’ (palsu).
  2. Berpegang pada ucapan sahabat Nabi, karena apa yang mereka katakana, menurut peristilahan hadits hukumnya mutlak marfu’, (shahih atau hasan), khususnya yang berkaitan dengan asbabul nuzul dan hal-hal lain yang tidak dapat dicampuri pendapat (Ar-Ra’yu).
  3. Mutlak harus berpegang pada kaidah bahasa arab, dan harus tetap berhati-hati jangan sampai menafsirkan ayat-ayat yang menyimpang dari makna lafadz yang semestinya, sebagaimana banyak terdapat didalam pembicaraan orang-orang arab.
  4. Berpegang teguh pada maksud, dan harus terjamin kebenarannya menurut aturan dan hokum syara’. Itullah yang dimaksud Rasulullah dalam do’a beliau untuk Ibnu Abbas, yaitu

     Artinya : “ya Allah limpahkanlah kedalaman ilmu agama padanya dan ajaran ta’wil padanya”[6]

  1. Kelemahan tafsir bi Ra’yi

Setiap sesuatu pasti memiliki kelebihan dan kelemahan, begitu juga dengan tafsir bi ra’yi ini. Pada tafsir ini tidak bisa dinilai dengan mutlak akan kebenarannya. Karena pada tafsir ini tidak mengambil dari dalil-dali pasti, tetapi Cuma menangkap dengan akal. Selain itu juga tidak ada sanad sebagaimana hadits

  1. Contoh Tafsir Bi ra`yi

      Pada al-qur`an surat al ahzab ayat ke 59

$pkš‰r’¯»tƒ ÓÉ<¨Z9$# @è% y7Å_ºurø—X{ y7Ï?$uZt/ur Ïä!$|¡ÎSur tûüÏZÏB÷sßJø9$# šúüÏRô‰ãƒ £`ÍköŽn=tã `ÏB £`ÎgÎ6Î6»n=y_ 4 y7Ï9ºsŒ #’oT÷Šr& br& z`øùt÷èムŸxsù tûøïsŒ÷sム3 šc%x.ur ª!$# #Y‘qàÿxî $VJŠÏm§‘ ÇÎÒÈ

Artinya : “Hai, Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, putri-pitrimu, dan istri-istri orang-orang yang beriman. “Hendaklah mereka mengulurakan jilbabnya kedeluruh tubuh mereka”. Dengan pakaian serupa itu, mereka lebih mudah dikenal maka mereka tidak diganggu lagi, dan Allah senantiasa Maha Pengampun dan Maha Penyayang”.